RECENT COMMENTS

LoveJune 8, 2006 1:56 am

Hari ini kamis tanggal 08-06-2006 ibunda tercinta berulang tahun. Memang tidak ada kado istimewa di hari ulang tahun kali ini. Hanya setelah mandi pagi dan ingin berangkat kerja saya, adik dan serta Bapak secara khusus memberikan selamat kepada Ibu yang berulang tahun. Cium pipi kanan dan kiri ibu pun di berikan oleh kami sebagai hadiah Ulang tahun lalu memberikan selamat semoga ibu di berikan kesehatan selalu, pajang umur, diberikan kesabaran selalu dalam mengurus kami dll.

Ketika saya ingin berangkat ngantor, kaka saya yang lain pun datang ke rmh bersama istri dan Anaknya. Dan kebetulan sekali Bahwa anak kaka saya si Nada itu pun mempunya tanggal lahir yang sama dengan anak kaka saya. Si nada genap berusia 1 thn pada hari ini. Ucapan selamat dan ciuman pun tak lupa kami berikan pada Si Nada.

Semoga Kebahagian ini selalu bersama keluarga besar kami. Amiien

LoveMay 19, 2006 4:21 am

sumber = tidak di ketahui

Usia ayah telah mencapai 70 tahun, namun tubuhnya masih kuat. Dia mampu
mengendarai sepeda ke pasar yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer untuk
belanja keperluan sehari-hari. Sejak meninggalnya ibu pada 6 tahun lalu,
ayah sendirian di kampung. Oleh karena itu kami kakak-beradik 5 orang
bergiliran menjenguknya.

Kami semua sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari kampung halaman di
Teluk Intan. Sebagai anak sulung, saya memiliki tanggung jawab yang
lebih besar. Setiap kali saya menjenguknya, setiap kali itulah istri
saya mengajaknya tinggal bersama kami di Kuala Lumpur.

“Nggak usah. lain kali saja.!”jawab ayah. Jawaban itu yang selalu
diberikan kepada kami saat mengajaknya pindah. Kadang-kadang ayah
mengalah dan mau menginap bersama kami, namun 2 hari kemudian dia minta
diantar balik. Ada-ada saja alasannya.

Suatu hari Januari lalu, ayah mau ikut saya ke Kuala Lumpur. Kebetulan
sekolah masih libur, maka anak-anak saya sering bermain dan
bersenda-gurau dengan kakek mereka. Memasuki hari ketiga, ia mulai minta
pulang. Seperti biasa, ada-ada saja alasan yang diberikannya. “Saya
sibuk, ayah.
tak boleh ambil cuti. Tunggulah sebentar lagi. akhir minggu ini saya
akan antar ayah,” balas saya. Anak-anak saya ikut membujuk kakek mereka.
“Biarlah ayah pulang sendiri jika kamu sibuk. Tolong belikan tiket bus
saja

yah.” katanya yang membuat saya bertambah kesal. Memang ayah pernah
berkali-kali pulang naik bus sendirian.

“Nggak usah saja yah.” bujuk saya saat makan malam. Ayah diam dan lalu
masuk ke kamar bersama cucu-cucunya. Esok paginya saat saya hendak
berangkat ke kantor, ayah sekali lagi minta saya untuk membelikannya
tiket bus. “Ayah ini benar-benar nggak mau mengerti yah. saya sedang
sibuk, sibuuukkkk!!!” balas saya terus keluar menghidupkan mobil.

Saya tinggalkan ayah terdiam di muka pintu. Sedih hati saya melihat
mukanya. Di dalam mobil, istri saya lalu berkata, “Mengapa bersikap
kasar kepada ayah? Bicaralah baik-baik! Kasihan khan dia.!” Saya terus
membisu.

Sebelum istri saya turun setibanya di kantor, dia berpesan agar saya
penuhi permintaan ayah. “Jangan lupa, Pa.. belikan tiket buat ayah,”
katanya singkat. Di kantor saya termenung cukup lama. Lalu saya meminta
ijin untuk keluar kantor membeli tiket bus buat ayah.

Pk. 11.00 pagi saya tiba di rumah dan minta ayah untuk bersiap. “Bus
berangkat pk. 14.00,” kata saya singkat. Saya memang saat itu bersikap
agak kasar karena didorong rasa marah akibat sikap keras kepala ayah.
Ayah tanpa banyak bicara lalu segera berbenah. Dia masukkan baju-bajunya
kedalam tas dan kami berangkat. Selama dalam perjalanan, kami tak
berbicara sepatah kata pun.

Saat itu ayah tahu bahwa saya sedang marah. Ia pun enggan menyapa
saya.!Setibanya di stasiun, saya lalu mengantarnya ke bus. Setelah itu
saya Pamit dan terus turun dari bus. Ayah tidak mau melihat saya,
matanya memandang keluar jendela. Setelah bus berangkat, saya lalu
kembali ke mobil. Saat melewati halaman stasiun, saya melihat tumpukan
kue pisang di atas meja dagangan dekat stasiun. Langkah saya lalu
terhenti dan teringat ayah yang sangat menyukai kue itu. Setiap kali ia
pulang ke kampung, ia selalu minta dibelikan kue itu. Tapi hari itu ayah
tidak minta apa pun.

Saya lalu segera pulang. Tiba di rumah, perasaan menjadi tak menentu.
Ingat pekerjaan di kantor, ingat ayah yang sedang dalam perjalanan,
ingat Istri yang berada di kantornya. Malam itu sekali lagi saya
mempertahankan ego saya saat istri meminta saya menelpon ayah di kampung
seperti yang biasa saya lakukan setiap kali ayah pulang dengan bus.
Malam berikutnya, istri bertanya lagi apakah ayah sudah saya hubungi.
“Nggak
mungkin belum tiba,” jawab saya sambil meninggikan suara.

Dini hari itu, saya menerima telepon dari rumah sakit Teluk Intan.
“Ayah sudah tiada.” kata sepupu saya disana. “Beliau meninggal 5 menit
yang lalu setelah mengalami sesak nafas saat Maghrib tadi.” Ia lalu
meminta saya agar segera pulang. Saya lalu jatuh terduduk di lantai
dengan gagang telepon masih di tangan. Istri lalu segera datang dan
bertanya, “Ada

apa, bang?” Saya hanya menggeleng-geleng dan setelah agak lama baru bisa
berkata, “Ayah sudah tiada!!”

Setibanya di kampung, saya tak henti-hentinya menangis. Barulah saat Itu
saya sadar betapa berharganya seorang ayah dalam hidup ini. Kue pisang,
kata-kata saya kepada ayah, sikapnya sewaktu di rumah, kata-kata istri
mengenai ayah silih berganti menyerbu pikiran.

Hanya Tuhan yang tahu betapa luluhnya hati saya jika teringat hal itu.
Saya sangat merasa kehilangan ayah yang pernah menjadi tempat saya
mencurahkan perasaan, seorang teman yang sangat pengertian dan ayah
yangsangat mengerti akan anak-anaknya. Mengapa saya tidak dapat
merasakan perasaanseorang tua yang merindukan belaian kasih sayang
anak-anaknya sebelum meninggalkannya buat selama-lamanya.

Sekarang 5 tahun telah berlalu. Setiap kali pulang ke kampung, hati saya
bagai terobek-robek saat memandang nisan di atas pusara ayah. Saya tidak
dapat menahan air mata jika teringat semua peristiwa pada saat-saat
akhir saya bersamanya. Saya merasa sangat bersalah dan tidak dapat
memaafkan diri ini.

Benar kata orang, kalau hendak berbakti sebaiknya sewaktu ayah dan ibu
masih hidup. Jika sudah tiada, menangis airmata sekalipun tidak berarti
lagi.

Kepada pembaca yang masih memiliki orangtua, jagalah perasaan mereka.
Kasihilah mereka sebagaimana mereka merawat kita sewaktu kecil dulu.

LoveJanuary 5, 2006 1:49 am

Cinta dan keraguan tidak akan pernah bersatu..!!!
Mungkin hanya berpapasan dan akan hilang
termakan oleh sang waktu yang terus berjalan.

LoveDecember 13, 2005 2:07 am

Alhamdulilah, tak disangka dan Tak di Tuga. Senin Malam tanggal12-12-2005 sepulang dari Ngantor bertemu dengan kawan lama. Seorang wanita, teman lama gw sewaktu di SMP 1 Ciledug (SOC). Terus terang saja dia adalah lirikan pertama Gw di SMP. Gw kira dia dah lupa dengan wajah Gw karena menurut temen2 gw yang lain Wajah Gw dah beda( karena Muka agak Tembem dan Pasang Jenggot di Dagu he..he…). Yang membuat hati ini bergetar dia dulu yang menghampiri Gw tuk menayakan kabar Gw selama ini dan kemana saja. Obrolan hangat pun terjadi seperti Sidik dah Nikah yaa…kok ngak ngundang2 !!!! Gubrak Spontan menjawab Belum. Gw pun membalasnya dengan pertayaan sama Klo Loe dah Ya…jawab dia Belum Juga. Wah mungkin ngak yaaa Lirikan itu muncul kembali

LoveMay 18, 2005 7:54 am

BILA IBU BOLEH MEMILIH

Anakku,
Bila ibu boleh memilih Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu
Maka ibu akan memilih mengandungmu…
Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah

Sembilan bulan nak,
engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata…

Anakku,
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar, atau ibu harus berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit, Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun

Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia
Saat itulah… saat paling membahagiakan
Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah.

Anakku,…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah, atau harus bangun
tengah malam untuk menyusuimu, maka ibu memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu dalam kantuk ibu, Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan

Anakku,
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu

Tetapi anakku…
Hidup memang pilihan ….
Jika dengan pilihan ibu , engkau merasa sepi dan merana
Maka maafkanlah nak …
Maafkan ibu….
Maafkan ibu …
Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita ,
agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang
hilang
Percayalah nak,
Sepi dan meranamu adalah sebagian duka ibu
Percayalah nak.
Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu.

LoveApril 27, 2005 10:23 am

Love doesn’t need reason

Lady : Why do u like me? Why do u love me?
Man : I can’t tell the reason… But I really like u…
Lady : U can’t even tell me the reason… How can u say u like me? How can u say u love me?
Man : I really don’t know the reason, but I can prove that I love u.
Lady : Proof ? No! I want u to tell me the reason. My friend’s boyfriend can tell her why he loves her, but not u!
Man : OK…OK !!! Erm…because u are beautiful, because your voice is sweet, because u are caring, because u are loving, because u are thoughtful, because of your smile, because of your every movements…
Unfortunately, a few days later, the Lady met with an accident and became comma. The Guy then placed a letter by her side, and here is the content :-)
Dearest,
Because of your sweet voice that I love u…Now can u talk? No! Therefore I cannot love u.
Because of your care and concern then I like u… Now that u cannot show them, therefore I cannot love u.
Because of your smile, because of your every movements that I love u…
Now can u smile? Now can u move? No, therefore I cannot love u…
If love needs a reason, like now, there is no reason for me to love u anymore. Do loves need a reason?
NO! Therefore, I still love u… And love doesn’t need a reason…

“When loving someone… never regret what u do… Only regret what u didn’t do”
If God brings u to it…He will bring u through it…